Followers

05 April 2014

Tagged under:

Coolyah: Karya Pelajar Indonesia di Jerman





Sebenarnya, semua berawal saat saya menemukan secara tidak sengaja, musik payung teduh yang begitu menyejukkan hati di soundcloud.com, jarang-jarang lho ada musik Indonesia yang seperti ini. Nah, Setelah itu saya menemukan soundcloud gitasav yang membawakan lagu payung teduh. Dan secara tidak sengaja saya terjerumus ke blognya. Dan akhirnya saya menemukan Coolyah, semacam reality show di YouTube tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Jerman, insbesondere Berlin, dengan pembawaan yang unik, kocak, menghibur dan garing tentunya! 


Flowchart nya kira-kira begini:
Soundcloud -> Payung Teduh -> gitasav soundcloud -> gitasav blogspot -> Coolyah







Fyi aja, pas zaman sd mungkin smp, saya pernah menulis kata “coolyah” di buku yang penuh dengan coretan random saya. Dan kali ini saya tidak menyangka akan menemukan apa yang saya tulis dan menjadi nyata. Pas liburan semester kemarin, Januari 2014, saya membuka coretan-coretan masa lalu saya. Di situ saya lihat beberapa kata yang kalo dibaca jadi bahasa Indonesia yang saya tulis dalam bahasa Inggris. Saya pas masih smp bisa dibilang alay juga sih haha, tapi alaynya antimainstream, ya salah satunya itu, apalagi pada waktu itu saya masih baru-barunya belajar bahasa Inggris. Pokoknya aneh banget! Contoh kata-kata yang saya ubah seperti: 
“coolyah” -> kuliah 
“do low” -> dulu
“free man” -> preman 
dan macam-macam pokoknya, saya lupa yang lainnya. 

“Kofo” –side story
Saya juga jadi teringat dengan buku kecil yang saya buat dari kertas HVS ukuran A4 atau quarto pada saat saya masih duduk di bangku SD. Buku itu terbuat dari lipatan-lipatan kertas HVS yang terbentuk menjadi buku kecil. Sebenarnya saya hanya mencoba ikut-ikutan kakak saya yang membuat buku kecil tersebut. Kertas HVS dilipat-lipat, setelah itu di-hekter (dijepret kalau saya menyebutnya haha) dan dipotong bagian-bagian yang tertutup karena lipatannya, dengan menggunakan cutter. Karena hekter yang digunakan tidaklah panjang, maka digunakanlah penghapus karet sebagai alat bantu. *Mungkin sulit diilustrasikan dengan kata-kata cara membuat buku kecil tersebut*

Dari buku kecil tersebut, saya memberikan brand saya sendiri kala itu dengan nama “Kofo”. Saya sama sekali tidak mengerti dari mana kata-kata tersebut muncul. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran saya saat dulu kecil. Oh ya fyi, waktu zaman itu juga saya sering membeli majalah seperti Bobo dan Kreatif. Dan oleh karena itu, saya ingin membuat majalah saya sendiri, meskipun dalam ukuran mini dan diisi dengan manual. “Kofo” ini sendiri berisikan cerita-cerita absurd yang penuh dengan imajinasi saya saat dulu kecil. Terdapat cerita pendek dengan teks, ada juga cerita bergambar yang ceritanya akan bersambung ke setiap seri “Kofo” berikutnya, dan lain-lain. Sampai saat ini entah sudah kemana majalah kecil tersebut menghilang. Padahal saya sudah menciptakan banyak seri dari “Kofo”, mungkin sudah sebanyak 30 buah.

Nah, nama “Kofo” tersebut juga kini menjadi kenyataan. Pada akhir tahun 2010 saya menemukan suatu tempat yang memiliki nama hampir mirip, bahkan bisa dikatakan sama dengan “Kofo”. Saat itu saya pergi ke Bandung dan melewati daerah yang bernama “Kopo”. Lho kok? “Kofo” menjadi kenyataan, hanya terdapat perbedaan pada huruf f dan p nya saja. Namun setelah saya cermati lagi kedua-duanya sama! Kenapa? Karena jika orang Sunda menyebut huruf f akan menjadi huruf p, seperti november jadi nopember, konferensi jadi konperensi, jadi kalau “Kofo” menjadi “Kopo”! benar-benar suatu keajaiban. 

Zurück zum Hauptthema {back to the main topic; google translated :v}
Oke sekarang balik ke topik utama yaitu tentang Coolyah, reality show tentang kehidupan pelajar mahasiswa di Berlin, Jerman, yang di chapter awalnya benar-benar garing, kalau si Angling nyebutnya crunchy. Pada awal-awal chapter kegaringannya ini sangat-sangat merasuki pokoknya, kurang terlalu jelas mau ngapain. But it’s ok, letak lucunya ya emang di kegaringannya itu haha, lumayanlah menghibur penonton. Nah barulah, di chapter-chapter berikutnya mereka lebih menceritakan bagaimana kehidupan di Jerman, kebanyakan jalan-jalan dan berbagai macam hal. Di bagian ini nih yang membuat para penonton pengen belajar di Jerman juga.

Otak utama terbentuknya coolyah sekaligus menjadi kameraman dan editornya adalah Afif El Hadi. Jarang banget nongol pokoknya, hanya di chapter tertentu aja dia nongol. Dia ini kuliah S2 di jurusan arsitektur. Saya dulu juga pernah tertarik untuk kuliah di arsitektur. Apalagi ketika melihat Ridwan Kamil, walikota Bandung yang juga merupakan arsitek—karya-karyanya luar biasa, salah satunya rumah dari botol bekas! Jadi pengen pindah dari jurusan matematika tidak pasti ini -_-

Dua orang yang muncul di episode pertama Coolyah adalah Angling dan Putera. Di chapter-chapter awal, mereka berdua ini benar-benar nggak jelas banget pokoknya, garing and so crunchy. Si Putera ini juga menurut saya lumayan bagus menjadi pembawa acara Coolyah, meskipun dengan ke-crunchy-an nya. Gue suka gaya ngomong lho, wajahnya juga gimana gitu haha. Kalau di suatu episode nggak ada dia rasanya sepi banget haha. Sedangkan si Sakti selalu menjadi target-man haha. Akhir-akhir chapter ini si Angling juga jarang nongol, kemanakah dia?

Selain cowok-cowok di atas, ternyata ada juga cewek-cewek yang menjadi pengisi acara Coolyah yang nggak kalah keren. Mereka adalah Gita dan Gita, yang satu Gita Savitri dan yang satu Inggita.

Nah, kalo si Gita Savitri ini, ternyata dia kelahiran Palembang lho, orang tuanya juga dari Palembang! Asli wong kito haha. Dan ternyata kakeknya wakil gubernur Sumatera Selatan, siapakah kakeknya? Nggak tau tapi, dia bisa bahasa Palembang atau nggak, soalnya lebih lama tinggal di Jakarta. Pokoknya, saya bangga juga ada orang Palembang yang go international dan hebatnya lagi si Gita ini keren banget, suaranya keren, rupanya yang pretty looking dan terkahir dia juga smart, soalnya bisa kuliah di Jerman yang bahasanya make bahasa Jerman! Perfect banget lah pokoknya. Dia juga yang membuat saya jadi tau mengenai Coolyah melalui akunnya gitasav.

Terus ada lagi Inggita, jarang nongol sih pas awal-awal chapter. Berbeda dengan Angling yang malahan jarang nongol di chapter yang akhir-akhir. Oh ya, yang pasti, Inggita dan Gita ini tidak garing seperti Angling dan Putera :v

Intinya, Coolyah ini keren banget, kocak dan mneghibur tentunya meskipun garing, terutama buat Afif El Hadi, otak utama terbentuk dan berjalannya Coolyah. Meskipun jarang nongol, jasa-jasanya patut dikenang, dia selalu siap sedia membawa kamera dan sekaligus mengedit hasilnya. Terlebih lagi, hal-hal tersebut tidaklah mudah—dia harus menyeleksi hasil videonya, editing video menggunakan software, jika perlu menambah efek-efek, menambah background musik dan lain-lain. Video yang sudah dikerjakan akan dia upload di YouTube, adaapaini username-nya. Namun sayangnya, akhir-akhir ini episode Coolyah terbaru jarang nongol lagi di YouTube, ada apa ini?

Pokoknya mereka semua keren, bisa kuliah di luar negeri dan berkarya, melalui Coolyah. Pemuda-pemuda Indonesia benar-benar luar biasa. Saya harap para pelajar Indonesia, terutama yang belajar di negeri orang dapat mengaplikasikan ilmunya dan mengabdi kepada Indonesia—memperbaiki apa yang ada di Indonesia. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, tuntulah ilmu sejauh mungkin dari kampung halaman namun jangan lupakan dia. Saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang luar biasa ke depannya. Aamiin.

Cool Yeah!